12 Mei 2020

Rangkum Jurnal - Pengantar Bisnis Teknologi Informasi


PENERAPAN TEKNOLOGI BLOCKCHAIN SEBAGAI MEDIA PENGAMANAN PROSES TRANSAKSI E-COMMERCE


Penerapan teknologi blockchain dalam sebuah layanan E-commerce adalah kebutuhan mendesak karena dalam melakukan proses transaksi diperlukan sebuah sistem keamanan untuk menjaga kerahasiaan data. Melalui metode SWOT teknologi blockchain akan dapat diterapkan sebagai media keamanan dalam proses transaksi e-commerce. Sayangnya masih sangat sedikit industri e-commerce yang menerapkan platform berbasis blockchain, sehingga masih terdapatnya rasa kurang percaya terhadap keamanan transaksi bisnis yang aman dan terdesentralisasi. Secara khusus, terdapat 2 manfaat dari penelitian ini, yang pertama terjaminnya sistem keamanan terhadap proses transaksi melalui penerapan blockchain dan yang kedua sistem pembayaran yang lebih mudah, efisien dan terdokumentasikan dengan baik. Serta kemudahan bagi mahasiswa, dosen dan pihak lain dalam melakukan proses transaksi. Penggunaan teknologi Blockchain untuk mengefisiensi manajemen identitas, membangun sistem pelacakan dan mengidentifikasi keaslian produk, serta diharapkan dapat menyinkronkan data yang tersimpan dalam blockchain ke semua jaringan pengguna, dapat menjadikan sistem pembayaran yang lebih mudah, efisien dan terdokumentasikan dengan baik. Serta kemudahan bagi mahasiswa, dosen dan pihak lain dalam melakukan proses transaksi.

Berdasarkan hasil dari Pembahasan Penerapan Teknologi Blockchain Sebagai Media Pengamanan Proses Transaksi E-commerce diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pemanfaatan teknologi Blockchain pada proses transaksi pembelian OJS (Open Journal System) di Pandawan dapat menjamin keamanan dalam Proses Transaksi. Pendistribusian data Transaksi antara penjual dan pembeli kemudian disimpan dalam sebuah blok-blok yang memiliki kode kode tersendiri.
2.      Pemanfaatan teknologi Blockchain pada proses transaksi pembelian OJS (Open Journal System) di Pandawan dapat membantu perusahaan terhindar dari kecurangan yang dilakukan oleh pihak ketiga karena data dapat disimpan oleh semua pengguna.
3.      Pemanfaatan teknologi Blockchain pada proses transaksi pembelian OJS (Open Journal System) di Pandawan memberikan kejelasan informasi mengenai detail transaksi mulai dari tanggal transaksi sampai dengan nominal transaksi.

Nama Kelompok ;

Adam Darmawan
Daud Maulana
Septian Adityo Sukma
Serapion Kerry
Sumantri

https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/cess/article/download/14893/pdf



Read more

1 Mei 2020

Contoh Kasus PP NPV IRR - Pengantar Bisnis Teknologi Infromasi


Buatlah masing-masing contoh kasus dari perhitungan :

1. Payback Period (PP)
Contoh soal :
Suatu usulan sebuah proyek investasi dengan dana Rp. 500 juta (initial investment) & ditargetkan penerimaan dana investasi (cash flow) berbeda setiap tahun.
Pada tahun ke 1 cash flownya Rp. 250 juta, tahun ke 2 Rp. 200 juta, lalu tahun ke 3 Rp. 150 juta, & tahun ke 4 Rp. 100 juta. Dimana syarat periode pengembalian investasi 4 tahun, berapakah payback periodnya ?

Jawaban :
Payback Periodnya yaitu :
= 1 + (500jt-250jt) / (450jt-250jt)
= 2,33 juta
atau juga bisa dihitung dengan cara:

Pada tabel tersebut, investasi Rp. 600 juta terletak di cumulative cash flow ke-3.
Payback periodnya yaitu :

= 2 + Rp. 500 juta – Rp. 450 juta / Rp.600 juta – Rp. 450 juta x 1 tahun
= 2,33 tahun atau 2 tahun 4 bulan

Pada soal diatas, pada Payback periodnya kurang dari syarat periode pengembalian perusahaan, sehingga usulan proyek investasinya diterima.

2. Net Present Value (NPV)
Contoh Soal NPV
Sebuah Perusahaan X ingin membeli sebuah mesin produksi untuk meningkatkan jumlah produksi produknya. Diperkirakan untuk harga mesin tersebut adalah Rp. 150 juta dengan mengikuti aturan suku bunga pinjaman yakni sebesar 12% per tahun. Untuk Arus Kas yang masuk pada perusahaan itu diestimasikan sekitar Rp. 50 juta per tahun selama 5 tahun. Apakah rencana investasi pada pembelian mesin produksi diatas dapat dilanjutkan?

Penyelesaiannya :
Diketahui :
Ct = Rp. 50 juta
C0 = Rp. 150 juta
r = 12% (0,12)

Jawaban :
NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + (C3/(1+r)4) + (Ct/(1+r)t) – C0
NPV = ((50/1+0,12) + (50/1+0,12)2 + (50/1+0,12)3 + (50/1+0,12)4 + (50/1+0,12)5) – 150
NPV = (44,64 + 39,86 + 35,59 + 31,78 + 28,37) – 150
NPV = 180,24 – 150
NPV = 30,24
Jadi nilai untuk NPV-nya adalah Rp. 30,24 juta.

3. Internal Rate of Return (IRR)
Contoh Soal :


Nama Kelompok :

1. Adam Darmawan
2. Daud Maulana
3. Septian Adityo Sukma
4. Sumantri
5. Serapion Kerry

Kelas : 4KA03



Read more

7 April 2020

Divisi Coffee Paste

Nama : Septian Adityo Sukma
Posisi : Ceo Coffee Paste
Latar Belakang Pendidikan : S1 Sistem Informasi

Tugas :
- Melakukan evaluasi terhadap operasional kedai kopi
- Pembuat keputusan/ badan eksekutif di kedai kopi.
- Menganalisis dan mengambil langkah paling prioritas bagi alokasi sumber daya dan penganggaran perusahaan

Tanggung jawab :
- Bertanggung jawab terhadap strategi pemasaran yang telah disusun
- Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan dibidang administrasi keuangan, kepegawaian dan kesekretariatan.
- Bertindak sebagai perwakilan organisasi dalam hubungannya dengan dunia luar


Nama : Daud Maulana
Posisi : Finance
Latar Belakang Pendidikan : S1 Akuntansi

Tugas :
- Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.
- Menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.

Tanggung jawab :
- Mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman.
- Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada paerusahaan.
- Membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode  tertentu.


Nama : Adam Darmawan
Posisi : Manager Produksi
Latar Belakang Pendidikan : S1 Manajemen Informatika

Tugas :
- Merancang system produksi
- Mengoperasikan suatu system produksi untuk memenuhi persyaratan produksi yang ditentukan.
Tanggung jawab :
- Mengatur agar dapat menciptakan dan menambah kegunaan suatu barang dan jasa
- menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.


Nama : Serapion Kerry
Posisi : Pelayanan
Latar Belakang Pendidikan :  S1 Ilmu Komunikasi

Tugas :
- Membuat seduhan/ hidangan yang dipesan konsumen
- mengontrol kualitas bahan baku dan melakukan riset inovasi produk serta kebutuhan selera konsumen

Tanggung jawab :
- Membuat seduhan/ hidangan yang dipesan konsumen
- Memberikan pelayanan yang memuaskan konsumen



Nama : Sumantri
Posisi : Cleaning
Latar Belakang Pendidikan :  Smk Tata Boga

Tugas :
- Menjaga kebersihan kedai tersebut
- Menjaga kerapihan kedai

Tanggung jawab :
- Bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapihan kedai





Read more

1 April 2020

Pengantar Bisnis Teknologi Informasi - Coffee Paste


Nama Perusahaan : COFFEE PASTE
Alamat         : Jl. Margonda Raya , Depok
No -  Telp : 0251 – 2345 – 654

1. Tunjukkan jumlah pegawai dan manajemen dalam perusahaan anda serta sebutkan pula jumlah pendiri perusahaan.
Berhubung toko kami baru memulai bisnis ini bisa dilihat di bagian diagram jumlah pegawai kita akan mempunyai 4 cabang pegawai yaitu bagian produksi, pelayanan, cleaning dan gudang yang masing - masing 2 orang di dalam cabang tersebut. Di bagian manajemen kita hanya 1 yaitu bagian financial. Berhubung perusahaan kami menganut sistem perusahaan perseorangan jadi jumlah pendiri perusahaan kami targetnya yaitu ada di setiap provinsi di indonesia yaitu 33

2. Berikan penjelasan tentang struktur organisasi yang di pilih oleh perusahaan anda, kemukakan alasan anda.
Perencanaan bentuk organisasi adalah memakai organisasi garis, dimana kekuasaan mengalir dari atas ke bawah secara langsung dari pemilik ke karyawan nya.

3. Gambarkan diagram struktur organisasi dari perusahaan anda.



Read more

23 Maret 2020

Pengantar Bisnis Teknologi Informasi - Coffee Paste

Nama Perusahaan    : COFFEE PASTE
Alamat : Jl. Margonda Raya , Depok
No -  Telp : 0251 – 2345 – 654

Tujuan
1. Merealisasikan kreatifitas yang dimiliki
2. Melatih agar dapat berwirausaha dengan baik
3. Sarana mengelola modal yang bertujuan mencari laba

Visi 
Menjadikan kedai Coffee Paste ini menjadi rumah kedua yang membuat konsumen nyaman ketika singgah ketempat ini terutama para mahasiswa ketika mengerjakan tugas-tugasnya.

Misi
Misi kedai Coffee Paste yaitu membuat desain yang unik dan menarik sehingga perasaan konsumen lebih nyaman ketika berada dikedai Coffee Paste ini dengan suasana yang simple minimalis dan elegan.

Bentuk kepemilikan Perusahaan
Perorangan

Sejarah Perusahaan
Nama Cofffee Paste ini diambil dari kata copy paste yang berarti salin dan tempel yang biasa digunakan seseorang untuk mempermudah mengerjakan tugasnya, mengapa menggunakan nama ini karena kata ini sudah sangat umum dipemikiran mahasiswa, jadi ketika seseorang ingin mengerjakan tugas mereka akan mengingat dengan mudah kalimat copy paste yang bermaksud Coffee Paste. Kedai Coffee Paste ini menyajikan berbagai pilihan kopi lokal Indonesia dengan harga terjangkau yang mengadopsi Konsep Fresh to cup.






Read more

22 Januari 2020

Kriteria Laporan Audit Sistem Informasi

https://hanungnp.staff.telkomuniversity.ac.id/files/2017/11/TEMPLATE-LAPORAN-AUDIT-SI-TI.docx


Laporan Audit Sistem Informasi di atas sudah memenuhi kriteria yang disebutkan pada materi tersebut.
1. Berisi makna penting yang sungguh diperlukan dan hasilnya bermanfaat bagi pimpinan perusahaan, auditee, serta auditor.
2. Disusun dan didistribusikan tepat waktu.
3. Ketepatan dan kecukupan bukti pendukung.
4. Menyajikan temuan dan rekomendasi atau usul solusi dengan nada yang konstruktif (bersifat pencerahan, tidak mendorong "permusuhan").
5. Temuan yang ditulis mempunyai sifat meyakinkan (temuan signifikan).




Read more

Softskill - Audit IT pada Domain EDM, APO, BAI, DSS, dan MEA



Audit IT pada Domain EDM, APO, BAI, DSS, dan MEA

Audit IT pada domain EDM (Evaluate, Direct, and Monitor)
Proses tata kelola EDM berurusan dengan tujuan stakeholder dalam melakukan penilaian, optimasi risiko dan sumber daya, mencakup praktek dan kegiatan yang bertujuan untuk mengevaluasi pilihan strategis, memberikan arahan kepada IT dan pemantauan hasilnya.

Audit IT pada domain APO (Align, Plan, and Organise)
Proses manajemen APO memberikan arah untuk penyampaian solusi (BAI) dan penyediaan layanan dan dukungan (DSS). Domain ini mencakup strategi dan taktik, dan identifikasi cara terbaik agar IT dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan bisnis.

Audit IT pada domain BAI (Build, Acquire, and Implement)
Proses manajemen BAI memberikan solusi dan mengimplementasikannya sehingga berubah menjadi layanan. Untuk mewujudkan strategi IT, solusi IT perlu diidentifikas ikan, dikembangkan, serta diimplementasikan dan diintegrasikan ke dalam proses bisnis. Perubahan dan pemeliharaan sistem yang ada juga tercakup dalam domain ini, untuk memastikan bahwa solusi dapat memenuhi tujuan bisnis.

Audit IT pada domain DSS (Deliver, Service, and Support)
Proses manajemen DSS menyampaikan solusi yang dapat digunakan bagi pengguna akhir. Domain ini berkaitan dengan penyampaian dan dukungan layanan aktual yang dibutuhkan, yang meliputi pelayanan serta pengelolaan keamanan dan keberlangsungan dukungan layanan bagi pengguna, dan manajemen data dan fasilitas operasional.

Audit IT pada domain MEA (Monitor, Evaluate, Assess)
Proses manajemen MEA memonitor semua proses untuk memastikan bahwa pengarahan yang disediakan domain yang sebelumnya diikuti. Semua proses IT perlu dinilai secara teratur dari waktu ke waktu untuk mengontrol kualitas dan kepatuhannya. Domain ini merujuk pada manajemen kinerja, pemantauan pengendalian internal, kepatuhan terhadap peraturan dan tata kelola.

Septian Adityo Sukma
4KA03
16116924

Sumber :


Read more

Softskill - Langkah-Langkah pada Auditing IT Governance



Langkah-Langkah pada Auditing IT Governance

Ada beberapa teknik audit untuk melakukan audit pada Teknologi Informasi. Auditor dapat menggunakan tiga kategori berikut dalam menguji pengendalian, yaitu :

1.       Teknik audit berbantuan computer (Computer Assisted Audit Techniques/CAAT) yang terdiri atas Auditing Around the Computer, dimana dengan teknik ini auditor menguji reliability dari computer generated information dengan terlebih dahulu menghitung hasil yang diinginkan dari transaksi yang dimasukkan dalam system, dan kemudian membandingkan hasil perhitungan dengan hasil proses atau output. Jika terbukti akurat dan valid, maka diasumsikan bahwa system pengendalian berfungsi seperti yang seharusnya. Kondisi ini cocok jika system aplikasi otomasi sederhana dan ringkas. Pendekatan ini masih relevan dipakai di perusahaan yang menggunakan software akuntansi yang bervariasi dan melakukan proses secara periodic.
2.       Auditing With the Computer adalah auditing dengan pendekatan computer, menggunakan teknik yang bervariasi yang biasa juga disebut Computer Assisted Audit Technique (CAAT). Penggunaan CAAT telah meningkatkan secara dramatis kapabilitas dan efektifitas auditor, dalam melakukan susbstantif test. Salah satu CAAT yang lazim dipakai adalah general audit software (GAS). GAS sering dipakai untuk melakukan substantive test dan digunakan test of control yang terbatas. Sebagai contoh GAS sering dipakai untuk mengetes fungsi algoritma yang komplek dalam program computer. Tetapi ini memerlukan pengalaman yang luas dalam penggunaan software ini.
3.       Audit Through the Computer yang merupakan teknik focus pada testing tahapan pemrosesan computerised, logic program, edit routines dan program controls. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa jika program pemrosesan dikembangkan dengan baik, dan memenuhi edit routines dan programme check yang memadai, maka error dan kecurangan tidak akan mudah terjadi tanpa terdeteksi.

Septian Adityo Sukma
4KA03
16116924

Sumber : 


Read more

Softskill - Contoh Dari Aspek Pada IT Governance dan Risk Managament



Contoh Dari Aspek Pada IT Governance dan Risk Managament
Persoalan mulai muncul ketika produk-produk investasi berkembang demikian cepat dan mencari celah-celah regulasi sehingga produk-produk tersebut tidak berada dalam yurisdiksi otoritas-otoritas yang selama ini bertugas mengawasi perusahaan yang menjual produk investasi.  Contoh yang paling anyar adalah kasus investasi emas bodong.

Tahun lalu Malaysia dan Singapura dikejutkan dengan skandal besar investasi emas bodong.  The Gold Guarantee Malaysia (TGG-M)  dan Asia Pacific Bullion yang berbasis di Singapura dikejutkan dengan kaburnya pemimin perusahaan itu, Lee Song Teck.  Geneva Singapura juga melakukan hal yang sama, pemimpinnya, Leow Wee Khong, tidak diketahui keberadaanya. Bank Sentral Singapura memasukkan tiga perusahaan itu dalam Daftar Waspada Investasi Perusahaan Tidak Berijin.

Bank Sentral Malaysia melakukan hal yang sama untuk Geneva Malaysia, Pageantry Gold, Caesar Gold, Worldwide Far East dan Bestino.  Sebagai taktik pemasarannya, salah satu perusahaan itu malah mengaku model penjualan emasnya telah disetujui oleh Bank Sentral, sesuai dengan prinsip syariah dan mempunyai Dewan Pengawas Syariah, bahkan menampilkan foto mantan Perdana Menteri Malaysia untuk meyakinkan calon nasabahnya.  Tiga pemimpin Geneva, Marcus Yee Yuen Seng, Ng Poh Weng, Chin Wai Leong disangkakan telah melakukan praktek bank gelap, pencucian uang dan penghindaran pajak oleh Bank Sentral Malaysia.  Tiga orang ini juga menjadi pemimpin Geneva Singapura.

Perusahaan-perusahaan investasi emas bodong ini bersembunyi di celah regulasi yang belum mengatur penjualan produk investasi emas berkedok penjualan emas.  Mekanisme bisnis mereka adalah menjual emas dengan harga 20-25% diatas harga pasar.  Katakan saja harga pasar Rp 500 ribu puriah per gram, dijual Rp 600 ribu per gram.  Nasabah mendapat dua hal untuk kelebihan harga itu.  Pertama, nasabah dapat diskon harga 2,5% per bulan dari harga beli emas.  Kedua, pada akhir periode kontrak nasabah dapat jaminan pembelian kembali emas seharga harga belinya.

Selisih harga emas itulah yang menyebabkan perusahaan sejenis ini tidak dapat dikategorikan sebagai perusahaan penjual emas, tapi masuk dalam kategori perusahaan yang menjual produk investasi.  Selisih harga emas itulah yang berpotensi menjadi money game atau dikenal luas sebagai sistem ponzi.  Itu pula yang dijadikan alasan Bank Sentral Malaysia mengenakan sangkaan “penghimpunan dana masyarakat secara ilegal”.  Dalam prakteknya, bahkan sebagian besar transaksi tidak terjadi penyerahan fisik emas, atau hanya sebagian kecil emas yang diserahkan fisiknya, atau terjadi selisih waktu antara penyerahan uang dengan penyerahan fisik emas.

Model bisnis yang persis sama kemudian ditawarkan di Indonesia. Salah satu perusahaan bahkan menggunakan taktik pemasaran yang persis sama.  Dengan menyalah-gunakan rekomendasi Dewan Syariah Nasional MUI yang seharusnya digunakan untuk mengurus kelengkapan ijin legalitas dari otoritas yang berwenang, namun digunakan untuk kepentingan pemasaran mengelabui calon nasabah.  Juga menampilkan foto Ketua DPR dan Ketua MUI untuk tujuan yang sama.  Setelah itu, giliran Indonesia dikejutkan dengan skandal yang sama, kaburnya pemilik PT GTIS warga negara Malaysia, Michael Han Cun Ong, Edward C.H. Ho, sedangkan Dato Zahari Sulaiman sebagai komisarisnya.

Kesadaran otoritas keuangan akan adanya celah regulasi ini, terlihat dari munculnya berbagai regulasi di beberapa negara tentang investasi emas.  Cina bahkan sejak tahun 1949 melarang penjualan produk investasi emas oleh swasta, baru sejak tahun 2002 diijinkan bertahap dengan aturan yang ketat.  Amerika Serikat juga telah melarang semua produk investasi emas dalam bentuk produk derivatif emas dan perak kepada investor ritel.  Bank Sentral India juga membuat regulasi tentang hal yang sama.  Otoritas Malaysia dan Singapura memasukkannya kedalam yurisdiksi mereka sebagai kegiatan shadow banking.

Itu sebabnya ketika GTIS meminta rekomendasi DSN MUI untuk kelengkapan dokumen mengurus legalitas ijin, DSN MUI memberikan sederet ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi.  Diantara yang terpenting adalah harusnya adanya penyerahan uang dan fisik emas secara tunai pada saat yang bersamaan. Memahami adanya perbedaan harga pembelian emas dengan harga pasar, yang memasukkan perusahaan ini sebagai perusahaan yang menjual produk investasi, DSN MUI mengarahkan perusahaan ini mengurus legalitas ijinnya ke Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).  OJK tidak menjadi pilihan karena yurisdiksinya tidak mencakup produk investasi berbasis komoditi.

Ada dua alasan DSN MUI mengarahkannya ke Bappebti.  Pertama, UU No.10 tahun 2011 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi telah mengakomodir produk syariah.  Kedua, DSN MUI telah bekerjasama dengan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) untuk produk syariah berdasarkan Fatwa DSN No. 82 tahun 2011.  Hal ini sangat penting karena model bisnis seperti yang ditawarkan GTIS ini memang belum dikenal dalam yurisdiksi Bappebti, BBJ, dan berbeda dengan yang digariskan dalam Fatwa No. 82.

GTIS bermain di celah regulasi yang ada.  Tidak masuk yurisdiksi Bank Indonesia, OJK, maupun Bappebti.  Yurisdiksi penjualan fisik emas juga tidak karena adanya perbedaan harga beli emas dengan harga pasar, ada diskon bulanan, ada kontrak, ada buy back guarantee.  DSN MUI jelas bukan otoritas yang memiliki yurisdiksi.  DSN MUI diberi wewenang oleh UU Perseroan Terbatas untuk memberikan rekomendasi syariah yang diperlukan dalam mengurus ijin usaha bagi perusahaan yang akan menawarkan produk berbasis syariah.

Bank Indonesia sebagai otoritas yang mengatur micro-prudential khususnya bidang perbankan, memang tidak memiliki wewenang untuk mengatur perusahaan non-bank seperti GTIS.  Namun bila GTIS melakukan kegiatan shadow banking tentu masuk dalam ranah BI.  Sebagai otoritas macro-prudential yang mencakup otoritas moneter dan sistem pembayaran, jelas berkepentingan dengan cadangan emas dan cadangan devisa, dan tentunya perdagangan emas dan valas.

Septian Adityo Sukma


Read more

Softskill - Aspek-Aspek Pada IT Governance dan Risk Management




Aspek - aspek pada Risk Management:

1.  Tataran Korporasi
Aspek ini  terdiri atas tiga hal : 
Pertama, kecukupan modal minimum. Kedua, batasan portofolio investasi. Ketiga, pemisahan rekening perusahaan dan nasabah. Pengaturan aspek ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan korporasi (corporate crime).

2. Tataran Pengelola Perusahaan
Aspek ini terdiri atas tiga hal juga :
Pertama, kompetensi manajemen berupa pengalaman dan keahlian. Kedua, integritas pengurus berupa rekam jejak yang tidak tercela. Ketiga, tata pengelolaan yang baik dan transparan. Pengaturan aspek ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan pimpinan perusahaan (white collar crime).  

3. Tataran Pelaksana Lapangan Perusahaan
Aspek ini terdiri atas tiga hal :
Pertama, pengenalan selera risiko nasabah (risk appetite). Kedua, pengetahuan tenaga penjual akan produk investasi yang dijualnya. Ketiga, transparansi dalam menjelaskan risiko investasi. Pengaturan aspek ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan tenaga pelaksana (blue collar crime). 

Septian Adityo Sukma
4KA03
16116924

Sumber : 


Read more

Softskill - Aspek Management Control Framework




Aspek Management Control Framework

  1. Planning and Organization
  2. Acquisition and Implementation
  3. Delivery and Support
  4. Monitoring

Application control framework

Boundary controls

A. Cryptographic control

·         Transposition ciphers: menggunakan permutasi urutan karakter dari sederet string
·         Subtitution ciphers: mengganti karakter dengan karakter lain sesuai aturan tertentu
·         Product ciphers: kombinasi transposition dan subtitution ciphers

B. Access control

·         Acccess controls yang digunakan dan kemungkinan masalahnya
·         Ukuran proteksi yang ditekankan pada mekanisme access controls
·         Apakah organisasi menggunakan access controls yang disediakan dalam paket perangkat lunak

C. Personal Identification Numbers (PIN)

·         Generasi PIN
·         Penerbitan dan penyampaian PIN kepada pengguna
·         Validasi PIN
·         Transmisi PIN di seluruh jalur komunikasi
·         Pemrosesan PIN
·         Penyimpanan PIN
·         Perubahan PIN
·         Penggantian PIN
·         Penghentian PIN

D. Digital signature

pengujian sistem manajemen yang digunakan untuk mengelola tanda tangan digital, penggunaan dan penyebarannya

E. Plastic cards

·         Pengajuan kartu
·         Persiapan kartu
·         Penerbitan kartu
·         Penggunaan kartu
·         Pengembalian/ penghancuran kartu

Septian Adityo Sukma
16116924
4KA03

Sumber :


Read more

Softskill - Kontrol Internal, Ruang Lingkup Kontrol internal & Sistem Kontrol Internal




Kontrol Internal, Ruang Lingkup Kontrol internal & Sistem Kontrol Internal
·         Pengendalian intern (internal control) adalah untuk membantu manajemen dengan tujuan tercapainya mekanisme kerja yang lebih efisien dan efektif. Struktur pengendalian intern sebagai suatu tipe pengawasan diperlukan karena adanya keharusan untuk mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab dalam suatu organisasi.
·         Ruang lingkup audit sistem informasi dibatasi pada pengendalian internal, sementara ruang lingkup audit operasional lebih luas, melintasi seluruh aspek manajemen sistem informasi.
Prosedur pengumpulan buktinya ?
  1. Mengamati fungsi – fungsi dan kegiatan operasional.
  2. Memeriksa rencana dan laporan keuangan serta operasional
  3. Menguji akurasi informasi operasional
  4. Menguji pengendalian
·         Control is a system that prevents, detects, or corects unlawful events
1. A system : komponen-komponen yang saling berkaitan untuk
mencapai tujuan bersama
Evaluasi terhadap kontrol harus mempertimbangkan
keterkaitannya dari perspektif sistem (= IS / organization
perspective)
2. Focus on unlawful events (=kejadian tdk sah/tdk benar).
Unlawful events : unauthorized, inaccurate, incomplete,
redundant, ineffective, or inefficient input enters the system
3. Controls are used to prevents, detects, or corects unlawful
events.
Untuk mengurangi kerugian yang mungkin terjadi karena
kemunculan unlawful events dalam sistem.


B. Control Objectives, Control Risk
·         Control objectives ialah sekumpulan best practices (framework) untukmanajemen IT, berupa sekumpulan ukuran, indikator, proses dan best practives untuk memaksimalkan manfaat penggunaan IT, dan melakukan tata kelola serta kontrol IT dalam perusahaan
·         Control Risk audit sistem informasi tidak dapat mendeteksi kelemahan kendali
C. Management Control Framework & Application Control Framework

Management control adalah melindungi terhadap akses tidak sah atau kerusakan data & memadai backup data. Adapun control tersebut meliputi kontrol terhadap:
  1. access – encryption, user authorization tables, inference controls and biometric devices are a few examples
  2. backup – grandfather-father-son and direct access backup; recovery procedures
Application control adalah sistem pengendalian intern komputer yang berkaitan dengan pekerjaan atau kegiatan tertentu yang telah ditentukan.
Tujuan pengendalian aplikasi :
  1. Input data akurat, lengkap, terotorisasi dan benar
  2. Data diproses sebagaimana mestinya dalam periode waktu yang tepat
  3. Data disimpan secara tepat dan lengkap
  4. Output yang dihasilkan akurat dan lengkap
  5. Adanya catatan mengenai pemrosesan data dari input sampai menjadi output

D. Corporate IT Governance

IT Governance adalah tanggung jawab dewan direksi dan manajemen eksekutif dan merupakan bagian integral dari tata kelola perusahaan.  IT governance terdiri dari kepemimpinan dan organisasi struktur dan proses yang memastikan bahwa organisasi IT ini menopang dalam arti luas strategi dan tujuan organisasi.


Septian Adityo Sukma
16116924
4KA03

Sumber :


Read more

Softskill - Konsep Dasar Kontrol dan Audit Sistem Informasi




Konsep Dasar Kontrol dan Audit Sistem Informasi

Audit sistem informasi berbasis kendali merupakan  suatu sistem yang mencegah, mendeteksi atau memperbaiki kejadian yang tidak dibenarkan (unlawfulevents) seperti: unautorized (tidak nyambung), innacurrete(kurang baik), incomplete(tidak komplet/tidak sesuai), redundant(mubazir), ineffective, ineffeicient event.tujuanya yaitu untuk mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi dari kejadian yang dibenarkan.

Berdasarkan standar manajemen yang dikeluarkan  oleh Internasional Standar Organization (ISO) yaitu ISO 9001-2000, penilaian kondisi sistem mutu mempunyai 4 skala yaitu:
·         P (Poor) yaitu sistem mutu praktis belum terbentuk. Disarankan untuk meninjau ulang keseluruhan proses.
·         W (Weak) yaitu masih banyak elemen sistem manajemen mutu yang tidak sesuai standar.
·         F (Fair) yaitu beberapa elemen sistem telah sesuai standar tetapi masih ada yang belum sesuai bahkan tidak ada sama sekali.
·         S (Strong) yaitu Sebagian besar persyaratan ISO 9001-2000 telah dapat dipenuhi oleh sistem.
B. Prinsip – prinsip Dasar Proses Audit SI

  1. Audit dititik beratkan pada objek audit yang mempunyai peluang untuk diperbaiki.
  2. Prasyarat Penilaian terhadap kegiatan objek audit.
  3. Pengungkapan dalam laporan adanya temuan-temuan yang bersifat positif.
  4. Identifikasi individu yang bertanggung jawab terhadap kekurangan-kekurangan yang terjadi.
  5. Penentuan tindakan terhadap petugas yang seharusnya bertanggung jawab.
  6. Pelanggaran hukum.
  7. Penyelidikan dan pencegahan kecurangan.
C. Standar dan Panduan Audit SI

Panduan yang dipergunakan dalam Audit Sistem Informasi di Indonesia adalah Standar Atestasi, dan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi akuntansi (IAI di Indonesia, AICPA di USA, atau CICA untuk Kanada), maupun yang lebih khusus lagi, yaitu dari ISACA atau IIA. Model referensi sistem pengendalian intern (internal controls model/framework) lazimnya adalah COBIT. Audit objectives dalam audit terhadap

IT governance (menurut COBIT adalah: effectiveness, confidentiality, data integrity, availability, efficiency, dan realibility). Karena yang diperiksa adalah tata-kelola Teknologi Informasi (IT governance), maka yang diperiksa antara lain adalah Teknologi Informasi itu sendiri. Karena itu istilah audit arround the computer dan audit through the computer tidak relevan lagi di sini.

Standar Audit SI ada 3, yaitu :

  1. ISACA
  2. COBIT
  3. ISO 1799

Septian Adityo Sukma
16116924
4KA03

Sumber :


Read more

Softskill - Kelebihan dan Kekurangan Standar Audit SI




Kelebihan dan Kekurangan Standar Audit SI

Audit SI
Kelebihan
Kekurangan
COBIT
·       Rahasia
·       Integritas
·       Dapat memberi proteksi terhadap informasi yang sensitive dari akses orang tidak bertanggung jawab
·       Cobit hanya berfokus pada kendali dan pengukuran
·       Cobit hanya memberikan panduan kendali dan tidak memberikan panduan implementasi operasional
ITIL
(Information Technology Infrastructure Library) 
      ·  Memberi deskripsi rinci sejumlah praktik penting TI dan menyediakan daftar komprehensif tugas dan prosedur
       ·  Bukan merupakan standard yang memberikan prescription tetapi lebih kepada merekomendasikan, oleh karena itu implementasi antara satu organisasi dengan organisasi lain dapat dipastikan terdapat perbedaan. Dengan demikian kita tidak bisa membandingkan / melakukan benchmark secara pasti.
       ·  Buku-buku ITIL sulit terjangkau bagi pengguna non komersial, ITIL bersifat holistic yang mencakup semua kerangka kerja untuk tatakelola TI, pelaksanaan pedoman dalam buku ITIL memerlukan pelatihan khusus dan biaya pelatihan atau sertifikasi ITIL terlalu tinggi.
ISO/IEC 38500
      ·  Menjamin akuntabilitas  diberikan untuk semua Resiko IT dan aktivitasnya
      ·   Memberikan panduan kepada advisor perusahaan.
       ·  Tidak cocok digunakan sebagai IT management framework









Read more